Izin Tidur Disini, Ma.

Sedikit lega, ya begini saja sudah sedikit lega. Rasanya beban hidupku seolah tercabut satu persatu dari ubun-ubun. Ma, akhir-akhir ini rotasi hidupku begitu cepat, sampai-sampai aku tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap malam aku dihantui rasa takut, kecewa, juga kehilangan. Aku gagal lagi, Ma. Aku gagal lagi mengartikan perasaan. 

Tapi, malam ini semuanya jauh lebih baik karena Mama ada disini, membiarkan aku merebahkan kepala di pangkuan mama. Sembari mama usap lembut geraian rambutku yang entah sudah berapa hari tidak aku pedulikan. Meski tanpa ada kata keluar dari bibirku, meski bibirmu juga tak melontarkan barang hanya sepatah kata. Namun, mama seolah sudah mengerti semuanya. 

Maaf, Ma. Lagi dan lagi, aku pulang hanya membawa air mata. Aku salah, Ma. Aku salah pada seseorang. Seseorang yang mana aku harapkan selalu ada seperti, Mama. Seseorang yang mana bisa membuatku lupa akan lukaku. Tapi malah tanpa sengaja aku melontarkan kata yang begitu menyayat hatinya. Dia lelah tapi sikapku membuatnya semakin lelah. 

Hari itu, kami saling salah mengartikan maksud setiap kata, tapi hari itu kami masih baik-baik saja. Namun entah angin mana yang membuat air mataku banjir seketika. 

Ma, maaf aku tidak bisa sesabar mama menghadapi ayah. Maaf aku juga tidak sekuat mama dalam menjalani hari. Pekerjaan juga tidak sebaik mama mengerjakannya. Maaf, Ma. Aku menjadi anak yang gagal. 

Apa mama kecewa terhadapku? 

Tapi malam ini dengan adanya mama disini, dengan usapan lembut tangan mama, aku sangat tenang. Aku izin tidur disini jauh lebih lama ya, Ma. Aku hanya ingin bersama mama.

Komentar

Postingan Populer