Aku—KACAU

Aku tersimpuh di antara reruntuhan hari. Melukis wajahmu dalam pekat dinding malam—seperti noda yang tak bisa dihapus hujan. Kucoba tertawa, tapi suaranya pecah. Kucoba berdiri, namun ... kakiku rapuh payah. Dan pernah kutulis ribuan kali kata "baik-baik saja" namun huruf-huruf itu luruh tak tereja.


Helena mati dalam gaun hitamnya,

Ya ... Helena, membawa bunga merah darah yang melekat di dada.

Darinya aku tahu:

setiap kehilangan adalah upacara pemakaman, meski nyawa masih dalam genggaman.


"Aku kacau" seruku. Bukan karena kau pergi

melainkan karena aku kehilangan diriku sendiri. Jika cinta itu merupa lilin—kau tiup, kau padamkan, lalu mati dengan tertawaan. Maka aku tetap terpanggang oleh sumbu yang membara sendiri. Lalu yang tersisa hanyalah asap. mencekik, menghabiskan seluruh napas malamku.


Biarkan saja malam ini

aku berbincang dengan bayangan,

bertanya: "Haruskah kehilangan

selalu menjadi jalan satu-satunya alasan?" Jika kendali diatasnamakan cinta, dan kini berenkarnasi menjadi manipulasi terkemas duka.


(Tertawa sinis) Helena telah mati, dan kini kusadari: bahwa Helena adalah aku sendiri. Mati terbakar dengan rindu dan dendam. Sementara kau menuang mesiu dengan seluruh ego yang belum sempat padam.


Namun dengarlah—walau kubisikkan aku kacau, bukan berati dada ini kehilangan namamu di sana. Yang jelas sudah berkarat, dan tak bisa dipindahkan. Sekalipun dengan upacara pemakaman atas jiwaku.



Wilwatikta, 3 September 2025

Ataplangitsenja

Komentar

Postingan Populer