Cacian Takdir
Kalaulah nanti:
Tersemat inai di celah jemari
Tak usah kau kutuki diri, layaknya Ahaveros
Karena tanpa itupun, bahagiaku mulai keropos
Diam bukan tak menentang
Namun lihatlah ...
Segalaku terbelenggu situasi gamang
Terlatar sebuah pinangan
Maaf ...
Sekalipun beratus derajad panas benci
Tetap kuulurkan tangan pada tungku api
Biar hangus dan legam rindu dendamku
Lalu binasa dalam cacian takdir yang menghardik pilu
Tak terhitung berapa kali mendung mencipta hujan
Tak perduli berapa kali pipi menadah hujan putih
Doaku "kau bahagia dalam pinangan."
Sekalipun aku meringkuk didekap pedih
Wilwatikta, 9 Maret 2025


Komentar
Posting Komentar