Pesan Tanpa Purnama
Aku kisahkan indah, pada pemilik bola permata hati.
Pada lembar latar megah, berdinding jeruji sepi.
Aku gaungkan serta menghamburkan namamu kepada angin membawanya, tanpa jejak rindu.
Untuk kamu yang duduk di singgasana waktu.
Sedangkan aku tersangkut jam dengan jarum yang merajam.
Aku berbisik lewat puisi serta doa dibawah langit tak berpintu tanpa jendela.
Sunyi - diam, masih bercengkrama tanpa nada
Lalu, pesan mengering geming
Sibuk alibi tuk berpaling
Pelan perlahan melumat luka air mata.
Menggenggam ingatan berkarat tak bermakna.
Serpihan kaca melukisan nestapa di dada, menganga tanpa darah namun begitu dalam rasanya.
Cahaya purnama enggan menyapa, setiti bayang pada sukma.
Apa langit begitu acuhnya? Hingga sengaja senyap tanpa suara. Pada siapa lagi aku harus bertanya?
Pada siapa lagi aku berkeluh kesah?
Berkas sinar merimbai menjelma sungai duka.
Berujung seperti apa nantinya?
Berakhir seperti apa kedepannya?
Yang ku tahu. Aku bukan prioritasnya.
Suramojo, Excelth Cleine & Ataplangitsenja


Komentar
Posting Komentar