Balada Puan Patah Hati [monolog]
Balada Puan Patah Hati (Monolog)
(Lampu temaram. Puan duduk di sebuah bangku kayu, memegang secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya menatap jauh ke arah jalanan sepi, lalu perlahan ia mulai berbicara.)
Aku masih ingat aroma kopi pagi itu. Pahit, tapi hangat—seperti senyumnya. Namanya mengendap di sini (menepuk pelan dadanya), nyangkut di antara tulang rusukku, seperti duri yang tak mau tercabut.
Dia bilang langit di sini lebih biru dibanding kota-kota yang pernah dia singgahi. Aku percaya. Aku percaya semua omongannya. Bahkan ketika dia berkata, "Kau adalah alasanku untuk berhenti mengembara," aku menyimpannya di sini (mengepal tangan di dada)—seperti orang bodoh yang menyimpan bom waktu.
Dan begitulah. Pagi itu, dia pergi. Hanya tinggalkan secarik kertas basah oleh embun. "Maaf." Cuma satu kata itu. Seolah lima huruf cukup untuk meruntuhkan seluruh duniaku.
Aku tidak menangis. Tidak juga berteriak. Aku hanya duduk di sini, di bangku yang sama tempat kami dulu menatap bulan. Menunggu kabut pagi membasuh mukaku yang kaku.
Orang-orang bilang, "Waktu akan menyembuhkanmu, Puan." Tapi lihatlah—waktu hanya mengajarku cara menelan rindu tanpa tersedak. Aku masih minum kopi di warung itu. Masih lewat jalan yang sama. Masih menoleh kalau ada langkah kaki yang mirip dengannya.
Tapi aku mulai menulis. Kutumpahkan semua yang tersumbat di sini (menunjuk tenggorokan) ke dalam kertas. Tentang bagaimana cinta bisa menjadi pengkhianat paling sunyi. Tentang bagaimana seseorang bisa menjadi hantu yang terus hidup dalam napasmu.
Dan mungkin … mungkin inilah pelajaran terbaiknya: bahwa patah hati tidak pernah tentang melupakan. Tapi tentang bagaimana kau bisa tetap utuh meski ada bagian dari dirimu yang pergi bersamanya.
(Dia menarik napas, tersenyum getir.)
Jadi, kalau kau dengar ini, ketahuilah—aku tak lagi menunggumu. Tapi kadang, di antara tegukan kopi pahit ini, aku masih membasuh namamu dengan lidahku. Perlahan. Seperti merawat luka yang tak mau kering.
Tabik,
Ataplangitsenja


Komentar
Posting Komentar