Manusia Bermasalah itu Aku
Aku manusia bermasalah. Ya, setidaknya itu yang selalu orang katakan. Aku terlalu sensitif, terlalu dalam, terlalu banyak berpikir. Tapi tahukah kamu? Aku hanya mencoba mengerti. Mengerti kenapa kau marah, mengerti kenapa kau diam, mengerti kenapa kau pergi tanpa penjelasan.
Aku habiskan malam-malamku memikirkan apa yang salah, apa yang bisa aku perbaiki. Aku dengarkan ceritamu, tangismu, amarahmu—bahkan ketika tak ada satu pun kata yang kau berikan. Aku terka maksud diam-diammu, aku telusuri retak-retak di suaramu, aku pegang tanganmu saat kau gemetar.
Tapi... kapan terakhir kali kau bertanya, "Kamu baik-baik saja?"
Kau pikir aku kuat? Aku yang selalu ada untukmu, yang selalu mengangguk, yang selalu bilang, "Aku paham, aku di sini." Tapi siapa yang benar-benar melihat aku? Siapa yang sadar bahwa aku juga punya badai dalam kepala ini? Bahwa ada kalanya aku ingin berteriak, "Aku lelah! Aku butuh didengar juga!"
Tapi aku diam. Karena aku takut jadi beban. Takut dianggap drama. Takut kau akhirnya pergi karena aku "terlalu rumit"
Jadi ya, mungkin aku memang manusia bermasalah. Manusia yang terlalu banyak bertanya, terlalu banyak merasakan, terlalu banyak mencintai—tapi tak pernah cukup diterima apa adanya.
Lucu, kan? Aku ahli dalam memahami orang lain, tapi tak seorang pun yang benar-benar mengerti aku.


Komentar
Posting Komentar